Penerapan Kurikulum Merdeka dalam dunia pendidikan membawa paradigma baru dalam proses belajar mengajar, termasuk dalam hal asesmen atau penilaian hasil belajar siswa. Salah satu bentuk asesmen yang menjadi sorotan utama adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang berfokus pada kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Namun, tantangan muncul ketika asesmen ini diharapkan kontekstual dan berakar pada budaya lokal, seperti yang sedang dikembangkan melalui kegiatan PKM oleh dosen Universitas PGRI Silampari.
Melalui pelatihan bertema “Pelatihan Penyusunan AKM Literasi Berorientasi Kearifan Lokal Lubuklinggau Melalui Pemanfaatan Aplikasi Digital”, tim dosen menghadirkan pendekatan baru dalam menyusun soal AKM. Guru-guru dari Yayasan Uswatun Hasanah dilatih untuk membuat soal literasi yang tidak hanya memenuhi standar Kurikulum Merdeka, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai kultural khas Lubuklinggau.
Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk merancang pembelajaran yang berpihak pada murid, berpusat pada pengalaman mereka, dan memperhatikan konteks lokal. Namun, hal ini tidak selalu mudah diwujudkan. Banyak guru yang masih terbatas dalam hal referensi, pemahaman tentang kearifan lokal, serta keterampilan mengintegrasikan budaya ke dalam bentuk soal asesmen. Di sinilah peran pelatihan menjadi sangat penting.
Dalam kegiatan ini, guru diberikan pembekalan terkait konsep AKM literasi, strategi menyusun soal berbasis konteks lokal, serta praktik menggunakan cerita rakyat dan fenomena budaya masyarakat Lubuklinggau sebagai stimulus. Mereka juga diperkenalkan dengan aplikasi digital untuk mendukung proses tersebut.
Dosen pembimbing dari Universitas PGRI Silampari menjelaskan bahwa AKM bukan sekadar soal untuk mengukur kemampuan membaca siswa, tetapi juga alat untuk membentuk karakter dan cara berpikir yang kritis, kreatif, dan kontekstual. Oleh karena itu, muatan lokal dalam AKM sangat penting agar siswa merasa terhubung dengan soal yang mereka hadapi.
Tantangan lainnya adalah menjaga relevansi antara budaya lokal dan kebutuhan belajar siswa di era digital. Untuk itu, pelatihan ini juga menekankan pentingnya inovasi. Guru diajak untuk tidak hanya menggunakan cerita lama secara mentah, tetapi mengolahnya dalam format yang modern dan menarik, seperti menyajikan teks dalam bentuk infografis, video pendek, atau desain visual melalui Canva.
Pelatihan ini menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi para guru. Mereka tidak hanya mendapatkan wawasan baru tentang Kurikulum Merdeka dan AKM, tetapi juga diberi ruang untuk mengeksplorasi potensi budaya mereka sendiri. Dengan keterampilan yang semakin lengkap, guru diharapkan dapat menyusun asesmen yang tidak hanya adil dan terukur, tetapi juga bermakna dan membumi.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka bukanlah beban, tetapi peluang untuk memerdekakan pendidikan agar lebih relevan, inspiratif, dan berakar pada nilai-nilai lokal yang luhur.
