Dalam era digital saat ini, penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Hal ini juga disadari oleh tim dosen Universitas PGRI Silampari ketika menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Pelatihan Penyusunan AKM Literasi Berorientasi Kearifan Lokal Lubuklinggau Melalui Pemanfaatan Aplikasi Digital”. Pelatihan ini bertujuan untuk membantu para guru memanfaatkan teknologi digital secara optimal dalam proses penyusunan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) literasi yang kontekstual.
Kegiatan yang dilaksanakan di Yayasan Uswatun Hasanah ini menargetkan para guru dari jenjang PAUD hingga SD. Dalam pelaksanaannya, pelatihan difokuskan pada bagaimana menyusun soal AKM yang tidak hanya sesuai dengan Kurikulum Merdeka, tetapi juga mampu mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal dengan dukungan teknologi. Peserta dikenalkan dan dilatih menggunakan berbagai aplikasi digital, seperti Google Form, Canva, dan platform evaluasi interaktif seperti Wordwall atau Quizizz.
Google Form dimanfaatkan sebagai alat untuk menyusun soal asesmen yang praktis dan efisien. Guru dapat dengan mudah membuat, menyebarkan, dan mengoreksi soal secara otomatis. Canva digunakan untuk mendesain tampilan stimulus teks yang lebih menarik dan visual, seperti memasukkan ilustrasi dari legenda lokal atau suasana khas Lubuklinggau agar siswa lebih tertarik dalam menjawab soal. Sementara itu, platform seperti Wordwall dan Quizizz memungkinkan guru menciptakan kuis interaktif yang menyenangkan dan mendukung pembelajaran aktif.
Pendekatan digital ini tidak hanya memudahkan guru dalam proses teknis, tetapi juga menumbuhkan semangat berinovasi. Guru menjadi lebih kreatif dalam menyajikan soal AKM, dan siswa pun lebih termotivasi dalam mengerjakannya karena bentuk penyajian yang menarik dan tidak monoton.
Dalam pelatihan, para peserta mendapatkan kesempatan praktik langsung menyusun soal AKM dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi tersebut. Mereka juga didampingi oleh dosen-dosen Universitas PGRI Silampari yang memberikan arahan teknis dan strategi pedagogis. Hasilnya, para guru berhasil menghasilkan soal-soal berbasis teks lokal yang disajikan secara digital dan siap digunakan di kelas masing-masing.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman baru dalam menyusun soal. “Selama ini kami hanya menggunakan kertas atau mengetik biasa, sekarang kami tahu bahwa membuat soal itu bisa lebih kreatif dan menyenangkan, apalagi jika dikaitkan dengan budaya kita sendiri,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, dosen dan guru bersama-sama membuktikan bahwa inovasi teknologi dan pelestarian budaya lokal dapat berjalan beriringan dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan aplikasi digital bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan kualitas asesmen dan memperkuat identitas lokal siswa.
Pelatihan ini menjadi contoh nyata bahwa teknologi bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai lokal dengan cara yang lebih relevan bagi generasi muda. Dengan keterampilan baru ini, para guru diharapkan dapat terus berinovasi dan menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya.
