Di tengah arus digitalisasi pendidikan, sering kali muncul kekhawatiran bahwa penggunaan teknologi dapat menjauhkan siswa dari budaya lokal. Namun, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digagas oleh tim dosen Universitas PGRI Silampari justru membuktikan sebaliknya: teknologi dan budaya dapat menjadi pasangan yang kuat dalam menciptakan asesmen literasi yang bermakna.
Melalui pelatihan penyusunan AKM literasi berbasis kearifan lokal dengan pemanfaatan aplikasi digital, para guru di Yayasan Uswatun Hasanah dibimbing untuk menggabungkan dua elemen penting tersebut. Mereka diajak untuk menggali cerita rakyat, kebiasaan masyarakat, serta simbol-simbol budaya lokal sebagai stimulus soal, lalu menyajikannya menggunakan platform digital seperti Google Form, Canva, dan Wordwall.
Hasilnya sangat menggembirakan. Soal-soal AKM yang dihasilkan oleh para peserta tampil menarik secara visual, kaya akan muatan lokal, dan mudah diakses siswa. Salah satu contoh adalah soal berbasis narasi tentang tradisi “besesanding” dalam pernikahan adat Lubuklinggau yang dikemas dalam infografis menarik dan dijadikan stimulus untuk pertanyaan berpikir kritis. Soal ini tidak hanya mengukur kemampuan membaca siswa, tetapi juga mengajak mereka merefleksikan makna budaya di sekitarnya.
Para guru yang sebelumnya merasa asing dengan dunia digital pun merasa terbantu. Mereka menyadari bahwa teknologi tidak harus rumit. Bahkan dengan perangkat sederhana dan aplikasi gratis, mereka bisa membuat asesmen yang jauh lebih menarik dibandingkan soal konvensional. Pelatihan ini membuka mata bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan alat bantu yang sangat kuat jika dimanfaatkan dengan tepat.
Di sisi lain, budaya lokal yang selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap pembelajaran, kini naik kelas menjadi bahan utama dalam asesmen. Ini merupakan pergeseran paradigma penting. Dengan menempatkan budaya lokal di pusat asesmen, siswa diajak untuk memahami bahwa nilai-nilai di sekitar mereka memiliki tempat dalam dunia akademik. Ini juga menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan rasa cinta tanah kelahiran dan identitas diri.
Dosen Universitas PGRI Silampari sebagai fasilitator memberikan contoh konkret bagaimana teknologi bisa diintegrasikan tanpa menghilangkan esensi budaya. Mereka bahkan menantang guru untuk berani membuat soal dengan format yang lebih kreatif, seperti komik digital, video pendek, atau kuis berbasis narasi.
Pelatihan ini akhirnya membentuk kesadaran baru bahwa inovasi dalam pendidikan bukan hanya tentang alat baru, tetapi tentang cara berpikir baru. Ketika teknologi dan budaya disatukan, asesmen tidak lagi terasa kaku dan menakutkan, tetapi menjadi proses belajar yang menyenangkan, membumi, dan membangkitkan rasa bangga terhadap budaya sendiri.
