Keberhasilan kegiatan pelatihan tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada pendekatan fasilitator dalam mendampingi peserta. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan oleh dosen Universitas PGRI Silampari. Dengan tema “Pelatihan Penyusunan AKM Literasi Berorientasi Kearifan Lokal Lubuklinggau”, para dosen tampil bukan hanya sebagai narasumber, tetapi juga sebagai mitra belajar para guru.
Pendampingan intensif menjadi ciri khas dari pelatihan ini. Dosen-dosen tidak hanya memberikan materi di depan kelas, melainkan juga turun langsung ke meja peserta, mengecek hasil pekerjaan, memberikan masukan, dan mendiskusikan kesulitan yang dihadapi guru dalam menyusun soal AKM berbasis budaya lokal. Suasana pelatihan pun terasa lebih seperti ruang kolaborasi ketimbang ruang kuliah satu arah.
Dalam sesi praktik, setiap guru diberi tugas menyusun satu set soal AKM literasi yang memuat unsur kearifan lokal Lubuklinggau. Dosen membantu peserta mulai dari penyusunan tujuan pembelajaran, perumusan indikator, penentuan stimulus berbasis cerita atau tradisi lokal, hingga teknik penilaian yang sesuai. Tidak sedikit guru yang awalnya kebingungan, namun perlahan menemukan pola kerja yang tepat berkat bimbingan dosen.
Salah satu hal yang ditekankan oleh dosen adalah pentingnya menjadikan budaya lokal sebagai sumber belajar yang hidup. Artinya, budaya bukan sekadar hiasan dalam teks, tetapi menjadi bagian utuh dari proses pembelajaran dan penilaian. Dosen juga mencontohkan bagaimana cerita rakyat bisa dikembangkan menjadi soal dengan berbagai tingkat kognitif, mulai dari memahami makna kata hingga menafsirkan nilai moral di dalamnya.
Hubungan yang terjalin antara dosen dan guru selama pelatihan ini sangat erat. Guru merasa dihargai, didengarkan, dan diberi ruang untuk berkembang. Bahkan beberapa peserta menyampaikan harapan agar kerja sama ini tidak berhenti di pelatihan saja, melainkan berlanjut dalam bentuk pendampingan lanjutan atau pengembangan komunitas belajar.
Kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi para dosen. Mereka melihat langsung bagaimana kompleksnya tantangan yang dihadapi guru di lapangan, terutama dalam hal integrasi budaya lokal dan teknologi dalam pembelajaran. Pengalaman ini memperkuat komitmen dosen untuk terus terlibat aktif dalam pengembangan pendidikan di daerah.
Pelatihan ini memperlihatkan bahwa ketika guru dan dosen berjalan bersama, saling belajar dan saling mendukung, maka transformasi pendidikan bukan hal yang mustahil. Melalui kolaborasi ini, soal AKM bukan lagi sekadar tugas administratif, tetapi menjadi sarana untuk menghadirkan pembelajaran yang membumi, bermakna, dan berakar pada identitas lokal peserta didik.
